Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Lalu

Sisi kadang tiada
Jauh kadang berada
Jika huruf dan rungu yang ku nanti
Bagaimana terima sebal ini
Barangkali benar
Pertengahan ada baiknya

26-11-2022

Pindah

Hitam dan putih selalu ada
Kurang dan lebih selalu ada
Namun kita bisa memilih pada kurang apa yang kita hendaki
Pada lebih apa yang kita ingini

Malang, 26 November 2022

Mengamati

 

Dua titik bersebrangan

Masing-masing memilih satu

Aku pun satu


Lalu seberang berkata

Mendekatlah

Ini uang rakyat

Jer basuki mawa beya


Lain berkata

Sukses ini bukan biaya


Posisinya berbeda


Biarkan dua titik itu pada tempatnya

dan

Sambungah keduanya agar tercipta garis yang bermakna





Ceria lah

Senyum itu kecil

Katanya ia mudah


Tersenyumlah 

Ceria lah


Ah kelihatannya mudah

Nyatanya, ia cukup sulit

untuk hidup yang banyak menelan pahit


Nyatanya, ia hanyalah penutup

Bagi tumpukan pilu

Keping silam, misalnya

untuk bekas yang melihat

Dunia ini separuhnya abu-abu


Panorama hitam putih yang berjalan dan hidup

Lalu sekali dua kali memberi kejutan indah

2021









Penuh kata

Aku 
ingin 
berkata

Tapi dunia telah penuh kata
Setiap hari hampir semua berkata
Pada dunia

Hingga dunia
mungkin rasanya penuh
sesak jadi tempat pembuangan kata
kepentingan dan rasa

Hingga banyak kata
terbuang setiap harinya
tanpa makna

Bahkan kataku juga


 


Erat

Saat erat mendekap, ada yang perlu diingat. Erat tidak mendekap, ia hanya hinggap. Menjalani takdir untuk bersama-sama. Yang sungguh mendekap adalah pemilik erat. Pencipta erat. 

Dan segala upaya hingga pengupayaan menjadi abu ketika kita lupa. Lupa dimana dan kemana diri sesungguhnya. 😇


Bukan Sempurna

Lambat laun menyadari,
Tak ada yang abadi untuk yang pertama

Tak ada yang benar-benar sempurna untuk secara utuh menjawab zaman

Moral, rasional
Menjadi seimbang tidaklah mudah

Halang rintang dan kecondongan
hanya bisa dilalui mereka yang melihat dengan ilmu dan agama

Suara Kotak dan Manusia

Konten-konten media massa hampir sesak oleh berita-berita pemilu. Tidak cukup selesai di pengumuman hasil pemilihan, isu ketidakpercayaan pada pemerintah dan representasi sesama masyarakat digembar-gemborkan.

Beberapa peristiwa menjadi tanda tanya. Ketika kertas suara berbicara dan oknum kericuhan bertindak nyata. Lisan, tulisan, semua seolah panas di telinga dan mata.

Salah satu tim sukses menggunakan diksi-diksi khas Orde Baru, entah kaum milenial sudah paham kelamnya sejarah atau hanya sebagian saja. Mendebarkan, angka angka suara menjadi rebutan. Janji hanyalah janji. Akan terbukti dari sejarah dan napak tilas perbuatan.

Penuhilah janji, jadilah orang yang jujur. Kata orang bijak, jujur adalah awal dari sifat amanah. :)

Hasil gambar untuk pemilu 2019

Ke Depan

Siapa bilang menggapai langit itu mudah. Realistis saja, kami tahu secuplik kisahnya. 
Tak ada yang sempurna, karna sempurna bukanlah kewajiban bahkan kemustahilan bagi makhluk sekerdil kami. Wajib berjuang tapi tak wajib menang.

Melangkah bukan untuk mundur tapi untuk maju

Pun dengan kehidupan dan tahapannya

Maju pun tak berarti tiada bercak dilaluinya

Kotor, terciprat? 

Ya. Lalu mari kita ke sungai tuk ambil air

Di sana, siapa tau bisa kita ambilkan mereka yang di belakang kita kehausan
Yang di belakang kita ingin mencuci baju
Yang di belakang kita ingin membasuh muka

Yang di depan kita ingin mendapat air
Yang di samping kita ingin mendapat air

Ingatlah, kita bersama bukan untuk terlena
Kita bersama untuk memperbaiki semuanya
Tak terkecuali diri kita
aku
yang berlumuran


Aku yang berlumuran
Tak menangis
Hidup harus dihadapi
Kenyataan menanti

Jalan terjal mulus bisa dilalui
oleh seberapa kuat ikatan pada Ilahi

Terkoyak

Ranting mengawai malam
Jika ingin menjaga dahannya, peganglah bersama
Tangan dan kaki dan kepala

Pagi

Alun tinta merakit waktu
Berhenti sejenak
Pagi

Jeda


Dalam keluguan jiwa
Lalu rapuhnya jiwa lainnya
Tanya menyapa, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang lupa 
Lalu dalam menyapa, bagaimana dengan yang alpa
Barangkali aku alpa itu maka sapalah

Jeda

Jika itu yang dibutuhkan
Barangkali sibuknya jiwa dan kehidupan
Tak ada kata tuk sepakat cukup sikap

Tak ada lagi keluh
Cukup penyembuh
Apakah demikian
Juang

Mengudara

Menyerap Menghembus.

Udara yang baik pun harus mampu dan mau

Menyibak sel darah manusia

Menyerap Menghembus

Pepohonan yang baik pun

Harus bersabar menyerap abu



Yang tak terlewatkan, adakalanya mereka akan terabaikan

Terlupakan dari syukur dan terimakasih


Dimakan waktu, hanya sel-sel yang tahu


2019
Ketika aku sendiri melupakannya

Asap di Saraf

Bising. Suara mesin-mesin otomotif itu berhasil mengganggu kejernihan dengar. Asap-asapnya menantang oksigen-oksigen di saraf otak untuk minggir. Menambah satu lagi, menyenggol kesegaran pikir.

Hasil gambar untuk malang macet

Semua orang tergesa-gesa? Hendak kemana?

Hendak segera sampai. Mereka lelah dengan asap-asap yang menerjang saraf otaknya.
Jika tak ingin ada polusi, kenapa kita terus memakai ini?

Sistem dan teknologi memaksa kita

Mereka produsen tak mau harga produksi mahal dan laba berkurang.
Teknologi ramah lingkungan tak memungkinkan untuk pabrik minyak mentah terus bertahan.

Kepentingan dimainkan
Rakyat dan kita dikorbankan untuk biasa menghirup semua ketidaknyamanan ini
Kita dipaksa hingga akankah terbiasa membayar banyak?


Tanpa Judul

Ada kata yang tak bisa diungkapkan. Boleh jadi karna ia menjaga perasaan, ataukah rasa yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Pun dengan berusaha mencintai-Mu. Mengimanimu pun aku masih mempertanyakan apakah aku sudah benar mengimani-Mu. Dalam itu, muncul kecemasanku.

Keridhoan-Mu kucoba rengkuh dengan tangan, kepala, dan kakiku. Hingga ku tak tahu sudah berapa lama aku berjalan, seberapa lelah aku mengayuh, mengusap keringat dan airmata. Di situ, muncul kecemasanku, sampai berapa lama aku bertahan. Dimana aku berjalan?

Aku susuri pelan-pelan. Ku hanya punya satu jalan. Mereka bilang ini benar. Dan aku yakini demikian sementara ini. Terkadang, ingin aku melihat mengenal jalan lainnya, tapi belum cukup keberanian dan pembatasanku dengan tepat rupanya.

Jika di jalan-Mu dan menuju-Mu aku harus berpuasa, boleh dikatakan selama ini aku belum berpuasa. Berpuasa dari keinginanku yang tak perlu, dari suara hatiku yang kesini kesitu untuk diam-diam mengkhianati-Mu.

Segala kebaikan-Mu, aku merasakannya lebih lebih dan lebih setiap hari. Sampai aku pun cemas, bagaimana aku akan membalas. Syukur dan maaf, entah seberapa jarang Engkau dengar itu dari hatiku. Seberapa banyak detik yang aku siakan untuk melupakan-Mu.

Namun aku harap, Engkau membimbingku, dalam setiap seretan langkah kakiku, merangkakku, mengayuhku, keringat, dan air mataku. Aku tahu aku harus tangguh. Dan sesungguhnya tak ada ketangguhan dan kekuatan melainkan dengan kehendak-Mu.

Senin

Api bulat
Mengisi jantung, mata,
dan jemari

Sepi

Manusia rona menyeru
dari balik tirai
"Turun.. Naik.. Turun..!"

Ah. Le lah

Saudara
di pojok sana
Menggumam
Menyulut simbol terdiam

Air, tak mampu membuat mereka seri
Binar
Seperti gemerlap cahaya