Mengamati
Dua titik bersebrangan
Masing-masing memilih satu
Aku pun satu
Lalu seberang berkata
Mendekatlah
Ini uang rakyat
Jer basuki mawa beya
Lain berkata
Sukses ini bukan biaya
Posisinya berbeda
Biarkan dua titik itu pada tempatnya
dan
Sambungah keduanya agar tercipta garis yang bermakna
Ceria lah
Senyum itu kecil
Katanya ia mudah
Tersenyumlah
Ceria lah
Ah kelihatannya mudah
Nyatanya, ia cukup sulit
untuk hidup yang banyak menelan pahit
Nyatanya, ia hanyalah penutup
Bagi tumpukan pilu
Keping silam, misalnya
untuk bekas yang melihat
Dunia ini separuhnya abu-abu
Panorama hitam putih yang berjalan dan hidup
Lalu sekali dua kali memberi kejutan indah
2021
Penuh kata
Erat
Bukan Sempurna
Lambat laun menyadari,
Tak ada yang abadi untuk yang pertama
Tak ada yang benar-benar sempurna untuk secara utuh menjawab zaman
Moral, rasional
Menjadi seimbang tidaklah mudah
Halang rintang dan kecondongan
hanya bisa dilalui mereka yang melihat dengan ilmu dan agama
Suara Kotak dan Manusia
Beberapa peristiwa menjadi tanda tanya. Ketika kertas suara berbicara dan oknum kericuhan bertindak nyata. Lisan, tulisan, semua seolah panas di telinga dan mata.
Salah satu tim sukses menggunakan diksi-diksi khas Orde Baru, entah kaum milenial sudah paham kelamnya sejarah atau hanya sebagian saja. Mendebarkan, angka angka suara menjadi rebutan. Janji hanyalah janji. Akan terbukti dari sejarah dan napak tilas perbuatan.
Penuhilah janji, jadilah orang yang jujur. Kata orang bijak, jujur adalah awal dari sifat amanah. :)
Ke Depan
Jeda
Mengudara
Udara yang baik pun harus mampu dan mau
Menyibak sel darah manusia
Menyerap Menghembus
Pepohonan yang baik pun
Harus bersabar menyerap abu
Yang tak terlewatkan, adakalanya mereka akan terabaikan
Terlupakan dari syukur dan terimakasih
Dimakan waktu, hanya sel-sel yang tahu
2019
Ketika aku sendiri melupakannya
Asap di Saraf

Semua orang tergesa-gesa? Hendak kemana?
Hendak segera sampai. Mereka lelah dengan asap-asap yang menerjang saraf otaknya.
Jika tak ingin ada polusi, kenapa kita terus memakai ini?
Sistem dan teknologi memaksa kita
Mereka produsen tak mau harga produksi mahal dan laba berkurang.
Teknologi ramah lingkungan tak memungkinkan untuk pabrik minyak mentah terus bertahan.
Kepentingan dimainkan
Rakyat dan kita dikorbankan untuk biasa menghirup semua ketidaknyamanan ini
Kita dipaksa hingga akankah terbiasa membayar banyak?
Tanpa Judul
Keridhoan-Mu kucoba rengkuh dengan tangan, kepala, dan kakiku. Hingga ku tak tahu sudah berapa lama aku berjalan, seberapa lelah aku mengayuh, mengusap keringat dan airmata. Di situ, muncul kecemasanku, sampai berapa lama aku bertahan. Dimana aku berjalan?
Aku susuri pelan-pelan. Ku hanya punya satu jalan. Mereka bilang ini benar. Dan aku yakini demikian sementara ini. Terkadang, ingin aku melihat mengenal jalan lainnya, tapi belum cukup keberanian dan pembatasanku dengan tepat rupanya.
Jika di jalan-Mu dan menuju-Mu aku harus berpuasa, boleh dikatakan selama ini aku belum berpuasa. Berpuasa dari keinginanku yang tak perlu, dari suara hatiku yang kesini kesitu untuk diam-diam mengkhianati-Mu.
Segala kebaikan-Mu, aku merasakannya lebih lebih dan lebih setiap hari. Sampai aku pun cemas, bagaimana aku akan membalas. Syukur dan maaf, entah seberapa jarang Engkau dengar itu dari hatiku. Seberapa banyak detik yang aku siakan untuk melupakan-Mu.
Namun aku harap, Engkau membimbingku, dalam setiap seretan langkah kakiku, merangkakku, mengayuhku, keringat, dan air mataku. Aku tahu aku harus tangguh. Dan sesungguhnya tak ada ketangguhan dan kekuatan melainkan dengan kehendak-Mu.
Senin
Mengisi jantung, mata,
dan jemari
Sepi
Manusia rona menyeru
dari balik tirai
"Turun.. Naik.. Turun..!"
Ah. Le lah
Saudara
di pojok sana
Menggumam
Menyulut simbol terdiam
Air, tak mampu membuat mereka seri
Binar
Seperti gemerlap cahaya





