Sabtu, 09 September 2017

Bahagia lah

Ketika kita ingin menuliskan, tapi keraguan itu datang. Teman, aku minta maaf jika satu ketika kalian harus bertemu dengan seorang Kurnia yang masih dalam proses pencarian jati diri dan belum menemukan pencerahan.
Aku hanya bisa memandangmu, menyampaikan maaf dari hatiku, lalu terkadang tersenyum padamu. Aku tak tau apakah itu adalah senyuman yang kau abaikan seperti dulu yang ku lakukan atau bagaimana. Tapi saat ini semoga hatiku menetapi satu hal, aku bahagia melihatmu bahagia. :)
.



Senin, 04 September 2017

Bayang, Cahaya, Renungan

Di sebuah sudut ruang, ia menatap sedikit cahaya. Ingin ditulisnya sebuah bait, lalu diurungkannya. Katanya, puisi adalah makhluk yang terlahir dari cipratan perasaan yang meloncat dari wadah bernama hati. Tak ada jendela berair di hadapannya, seperti waktu itu. Hanya ada angan dan sisa-sisa perenungannya yang sempat mendorong sarafnya memproduksi air mata.

Ia kemudian teringat pada masa kecilnya, di tengah bermain-main, ia melihat ibunya menatap langit-langit cukup lama lalu meneteskan air mata. Pilihannya. Ketika mundur tak bisa, seperti sejarah yang tak mungkin diralat kecuali dengan melakukan tindakan saat ini yang akan menjadi bagian sejarah itu sendiri. Satu dua detik, menit, jam, hari, tahun, windu, dasa hingga mendekati abad atau melebihinya. Akan ditentukan separuhnya dari pilihannya kini.


Halo

Rebah, pohon, dan rerumputan
Kicau, air, dan angin angin
Izinkan aku rebah dalam
Permainanmu

Senin

Api bulat
Mengisi jantung, mata,
dan jemari

Sepi

Manusia rona menyeru
dari balik tirai
"Turun.. Naik.. Turun..!"

Ah. Le lah

Saudara
di pojok sana
Menggumam
Menyulut simbol terdiam

Air, tak mampu membuat mereka seri
Binar
Seperti gemerlap cahaya
 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design