Selasa, 27 Juni 2017

Selamat Lebaran :)

Assalamualaikum :)
Perkenankan kali ini aku memulai tulisan dengan sedikit salam. Semoga salam ini bisa menjadi sapaan hangat yang mencerahkan setiap pembaca tulisan ini. Tanpa mengurangi rasa takdzim terhadap guru-guruku, izinkan aku pula untuk mengawali pembahasan tipis ini dengan berterimakasih pada Mbah Nun (Emha Ainun Najib), yang dengan karya-karya beliau berhasil menumbuhkan kembali kesadaran berpikir untuk memikirkan lebih dalam lagi setiap fenomena di sekeliling kita. Yang barangkali sebelumnya sempat sedikit terabaikan dari pertanyaan "mengapa demikian" atau bahkan terabaikan sama sekali dari pertanyaan itu. Mbah Nun dengan pemikirannya dan penjabaran proses pemikiran itu memancing setiap pemikiran untuk ikut berpikir dan melihat bersama. Sehingga tak terasa, saat ini pun aku dan bahkan jutaan jamaah Maiyah lainnya menjadi insan yang mulai berpikir menjadi Abdulloh. Sebuah proses yang entah cepat atau lambat tapi pasti harus naik tingkat lagi supaya manusia ini benar menjadi "kholifatulloh" di atas bumi dan bukannya menumpahkan darah.
Sebenarnya menulis di saat siang lebaran begini sedikit membuatku gelisah. Khawatir ada tamu yang datang sementara aku tidak bisa mempersilahkan dengan baik karna harus berhadapan dengan layar laptop sementara sakin asiknya ingin menulis.
Membaca karya Mbah Nun yang tetap relevan di baca tanpa mengenal tahun, membuatku menemukan jawaban pelan-pelan (proses mencari jawaban mungkin lebih tepatnya) akan pertanyaan yang selama ini Alloh turunkan melalui perenungan. Perenungan yang terkadang seringkali melintas tapi lalu terlupakan karena kesibukan atau lainnya. Perenungan tentang menjadi muslim, hamba Alloh yang mengaku pasrah kepada-Nya apalagi ingin mencintai-Nya. Di tengah dinamika modernisasi pengetahuan yang bersifat analitis, dipadukan dengan warna-warni perebutan penerapan agama yang normatif. Di tambah dengan budaya yang terkadang di iming-imingi oleh bungkus kata 'modern' 'kekinian' dan 'Barat' yang belum tentu benar-benar berharga atau membawa kebaikan untuk kedekatan kita kepada sesama, untuk semakin menyayangi manusia, dan semakin merasakan getaran Ilahi melalui isyarat-isyarat-Nya.

Mbah Nun beberapa hari lalu menulis Idul Fitri Wisanggeni di situs caknun.com. Sebuah tulisan yang kira-kira sedikit banyak memiliki hubungan dengan medan yang aku pelajari di jurusan hubungan internasional. Meskipun awalnya aku tidak bermaksud untuk kuliah, namun ketika terlanjur, semoga aku bisa bersungguh belajar karna siapa tahu ilmu ini bermanfaat bagi diri maupun orang banyak meskipun HI tentu bukanlah satu-satunya ilmu yang bersifat serbaguna. Ia tentu harus dilengkapi dengan alat lain yakni ilmu agama yang menjadi dasar, agar akhlak ketika berpadu dengan ilmu menjadi satu kemuliaan. Tanpa akhlak mulia, ilmu tidak menjadi rohmah namun bisa menjadi penghancur.
Ketika terjadi fenomena perang dunia, yang bisa diamati ternyata bukan hanya dhohir orang-orang yang mengalahkan satu sama lain. Lebih dari itu, perang dunia, lebih mengenaskan dilihat dari akibatnya. Hanya karna perebutan kekuasaan (yang tidak akan di bawa mati), rasa tidak suka pada orang lain, lantas mengajak dan mengorbankan jutaan orang bahkan lintas negara untuk bunuh-membunuh, perilaku yang tidak mulia tentunya. Setelah perang dunia pertama dan kedua bersifat materialistis, perang dunia ketiga bersifat pemikiran. Sekelompok orang ingin 'menguasai dunia'. Padahal jelas mereka hanya manusia, dan apalah gunanya manusia mengakumulasi 'kekuasaan' jika pada akhirnya setelah mati ia tahu bahwa yang berkuasa hanya lah Alloh semata? Harta, alat perang, laba perdagangan, pemikiran orang lain tidak akan berguna jika hanya diniatkan untuk kekuasaan. Jika kekuasaan didefinisikan sebagai tangga yang akan menjadikan seseorang menjadi raja, maka sia-sia perbuatannya karna sejatinya Raja itu adalah Tuhan yang me'raja'i bumi, manusia, jin, dan semuanya.
Akan tetapi, jika kekuasaan diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengubah tindakannya, maka hendaknya kekuasaan itu diarahkan untuk kebaikan. Mengapa demikian?  Seseorang bisa saja mengumpulkan harta sebanyak mungkin, membeli baju beratus lemari, dan bermegah-megahan. Sayangnya, jika itu di dunia yang di atas bumi ini, maka itu semua tidak akan dimiliki selamanya. Setelah meninggal dan seiring berjalannya waktu, harta itu akan dimakan rayap, berganti tangan, dan seseorang itu tak mungkin bisa menyentuhnya. Itulah sunnatulloh. Ketetapan Alloh bahwa dunia yang bumi ini ditinggali manusia, adalah sesuatu yang merupakan tahap awal menuju kehidupan sesungguhnya, kehidupan abadi yang sering disebut akhirat. Kehidupan abadi itu akan kita tempuh setelah kita 'dilahirkan' atau dibangkitkan kembali dari mayat di dalam kubur, menjadi manusia lagi di alam lain.
Seperti ketika kita simulasi sebelum mendaki gunung. Alloh menyediakan lahan di gunung dan menaruh kita di lereng beberapa waktu untuk mengambil bekal dan berlatih. Kemudian, setelah beberapa waktu, Alloh memutuskan untuk membanjiri dan menghilangkan lereng itu. Sehingga semua manusia mau tidak mau harus membawa bekal yang berhasil ia kumpulkan dan berlomba menuju puncak dan sesuai ilmu simulasi itu lah mereka akan bertahan dan betah di puncak bahkan sejahtera. Akan tetapi jika bekal yang dibawa tidak cukup, tidak sampai puncak mereka terengah-engah dan berhenti. Ada pun yang tidak mau meninggalkan lereng, maka ia akan dimakan banjir dan tenggelam kemudian masuk angin terus menerus.
Seperti itulah. Dan saat ini, tampaknya beberapa kelompok berusaha mendapatkan 'kekuasaan' untuk mempengaruhi orang lain. Untungnya bukan untuk bunuh-membunuh lagi, melainkan untuk membangun 'perumahan'. Menanamkan bahwa rumah joglo itu sudah tidak tren dan saatnya membangun perumahan dan apartemen. Padahal itu hanya rumah. Rumah, sepanjang yang tinggal didalamnya aman, tidak kehujanan, bisa tidur lelap, tidak digigit nyamuk, pagi bangun bisa sarapan, dan makan tidak sampai lapar, sebenarnya sudah Alhamdulillah nikmat. Hmm.. Meskipun demikian, entahlah.. barangkali ini yang disebut Mbah Nun sebagai proses Hari Keempat, Kelima dan Keenam. Suatu saat manusia akan sadar, bahwa pembangunan sebenarnya adalah membangun jiwa manusia menjadi rukun, memperbaiki diri, dan baik bagi orang lain. Selanjutnya, manusia akan berusaha mencari Tuhan-Nya, mengabdi dengan berbuat baik kepada siapapun dan apapun. Hingga semuanya menjadi baik dan barangkali itu lah menuju akhir episode dramatis bumi ini, yang diungkapkan oleh Mbah Ronggowarsito sebagai Kolo Suroso.

Kamis, 22 Juni 2017

Lupa belum dikasih judul

Sepertinya blogging di sini cuma jadi kegiatan sebulan atau bahkan setahun sekali. Baru sadar ketika liat postingan terakhir Mei bulan kemaren ini. Nggak terasa sebentar lagi lebaran dan kayaknya udah cepet aja ketika aktif tiap hari. Apalagi taun ini kampus liburnya H-3 bro sis sedulur. Maigat wkwk.
Untungnya aku udah nggak banyak UAS lagi. Emang udah semester tua sih ^^" Momen yang cukup menegangkan karna orangtua dan keluarga bahkan tetangga menanyakan kelulusanmu. Kapan? Setelah itu dikejar pertanyaan kapan dan kapan barangkali. Barulah mungkin ketika kamu uda nikah, kerja, tenang hidup loe. wkwk. Eh, ditanya juga, kapan punya anak? Loh kan.
Mau nggak mau hidup emang berjalan terus. Itulah takdir Ilahi, Pencipta kita semua. Entah kenapa yang namanya sudah terlanjur lahir di dunia ini harus siap untuk menghadapi segala resiko dan masalah. Setiap hari. Bukan berarti resiko dan masalah itu menunggu hal besar untuk terjadi pada kita, Lur. Resiko untuk introspeksi diri dan Masalah untuk berakhlak mulia dengan Tuhan dan sesama makhluk-Nya setiap hari. Sebuah proses aksi-refleksi pribadi yang tidak berhenti semestinya, sebab waktu berjalan terus. Berarti usia kita menua setiap hari. Dan dalam jangka waktu itu, setiap hari pula kita dipaksa untuk terus menjadi lebih baik. Kalau tidak merasa, berarti bisa jadi hidup kita datar saja, tidak ada kemajuan, padahal orang-orang di sekitar kita semakin memperbanyak kebaikan, pahala, skill, kecerdasan, dan sebagainya.
Yah malah nyasar dan ngelantur bahas ke mana-mana. Nah ini berkaitan sama kembalinya aku ke blogger. Wehehehe semacam RETURN :D Nggak penting amat diposting sebenernya, tapi bagiku inilah latian menulisku dan ajang untuk menghiasi blog kecil pribadiku yang menurutku sudah seperti kamar digitalku sendiri. :)
Kurnia sama Shofiyatul Amrih dan Anisa. Kangen sebenernya sama sofi. Entah dia agak susah dihubungi sekarang :(
 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design