Jumat, 17 November 2017

Ketidakadilan dalam Drakor

Barusan banget liat beberapa episode drama korea yang unch sekali gara-gara mbakku nonton drakor wkwk. yah begitulah.

Seusai nonton, lebih tepatnya dipaksa udahan nonton oleh mbakku, sedikit refleksi terlintas. Sebelumnya yang ketawa ketiwi, menjadi merenung.

Seperti sebuah ketidakadilan dalam drama korea. Pemain-pemainnya yang utama adalah mereka yang parasnya tampan dan ayu-ayu dengan standar kulit putih, licin, kinyis-kinyis, bibir merona, muka lonjong, alis standar dan rapi, rambut jatuh terbelai, badan ramping, dan itu disamping standar bahwa aktingnya juga harus natural.

Standar fisik yang tidak sedikit menjadikan artis-artis korea oplas alias operasi plastik untuk bisa main ke karir yang lebih tinggi dan jadi idaman muda-mudi dunia.

Sedangkan mereka yang dengan wajah korea cenderung kotak, dan b aja mungkin meskipun putih juga, biasanya jadi pemain figuran atau peran utama yang kemudian berubah jadi cantik. Kadang juga cuma jadi orangtua atau keluarga yang pemeran utama.

Sebuah ketidakadilan dimana diproduksi dan terstruktur oleh perindustrian film. Tapi faktanya memang itulah yang digandrungi mbak mas dedek gemes yang terlanjur cintrong sama drakor dan sejenisnya. Suplai yang didukung dengan permintaan konsumen sehingga terciptalah pasar yang kuat.

Semakin banyak penonton drakor, semakin banyak dana untuk produsen drakor, dan semakin banyak lagi artis korea berstandar ayu tampan demikian yang akan diproduksi oleh industri kecantikan.

Betapa tidak adilnya drama korea atau hiburan korea yang mengeliminir tingkat karir seseorang dari fisiknya, meskipun sebagai standar sekunder.

Bagi kaum feminis, ini juga ketidakadilan bagi kaum perempuan. Mereka hanya dinilai berharga ketika didukung oleh fisik yang distandar dengan standar tertentu, standar mata manusia jelalatan terkadang (bukan mesti lo ya).

Tapi yang menjadi perenungan kembali adalah kenapa konsumen drakor juga menyukainya? dan tidak sedikit.

Bahkan kita pun bisa bilang itu wajar kalau cowok suka cewek cantik atau cewek suka cowok ganteng

Wajar dan manusiawi. Itu salah satu kuncinya yang bisa kita diskusikan.

Betapa manusiawinya menyukai laki laki tampan dan mbakyu yang cantik kinyis-kinyis.

Tapi kenapa dunia ini ada yang cantik dan tidak cantik?
Dan kenapa sifat manusiawi itu dibiarkan Tuhan memilih yang cantik?

Prasangkaku, Tuhan ingin menunjukkan sifat Adil-Nya.

Lihatlah di dunia ini, Tuhan menciptakan manusia cantik dan tidak itu terserah, baik bagi orang yang hatinya baik dan tidak sombong rajin menabung atau sebaliknya. Bahkan terkadang, paras cantik kelakuan tidak cantik.

Betapa ini terlihat tidak adil.

Tapi tunggu dulu. Hal itu sebenarnya bukan tidak adil, itu adil yang belum terlihat.

Pada saat di dunia, Tuhan ingin menguji manusia dengan sifat manusiawi dikombinasi dengan realita yang aduhai warna-warni, mampukah kita ini berjuang untuk lulus dari ujian? Yakni ujian memperbagus hati kita, mengesampingkan sifat manusiawi kita yang sukanya lihat fisik, menjadikan sifat Ilahiyah sebagai prioritas.

Apa sifat ilahiyah itu?

Melihat seseorang dari hatinya, bukan dari fisiknya. Kalau dalam Al-Quran bahasanya Alloh tidak melihat suwarokum, walakin qulubukum.

Lantas, untuk apa sifat manusiawi yang suka melihat tampan dan cantik itu ada?

Sepertinya ada korelasi dengan akherat. Ketika di kehidupan abadi nanti, lebih tepatnya di akhirat, Tuhan akan menyulap wajah-wajah ayu dan tidak ayu.

Mungkin seperti filem beauty and the beast, atau pangeran kodok, saat itulah Tuhan menyulap, manusia yang baik hatinya akan berubah menjadi cantik jelita dalam usia muda terus menerus, seperti dalam hadits Nabi.

Sedangkan Tuhan menyulap wajah manusia yang buruk hatinya, menjadi wajah wajah yang hancur oleh api, hitam, dan buruk rupa selamanya.

*emoticonkaget*

Ya, mungkin di situ sifat manusiawi akhirnya mendapat kepuasannya. Seperti buka puasa. Ketika di dunia, harus tahan hati liat mas mbak yang ganteng dan ayu, di akhirat akan berbuka puasa.

Eh jadi inget, bagaimana dengan para wali Alloh alias para bebebnya Alloh yang sudah terlanjur cintrong sama Alloh?

Diceritakan, mereka sudah tidak tau dan lupa rasanya sifat manusiawi yang suka liat cogan dan cecan. Pada akhir kisahnya, mereka bahagia dengan cinta sejati mereka, yakni Tuhan yang Maha Esa, yang sudah lama mereka ingin bertemu tapi tak kunjung bisa.

Mereka tenang dan damai bersama Tuhan, itulah paling besarnya nikmat surgaa... Jengjeng.. (koyok ceramah aee wkwk)

Happy ending.

Yah, itulah hikmah dari ketidak adilan drakor. Jadi drakor adil atau tidak sih?

Adil itu relatif, karena socrates, plato, aristoteles aja ikhtilaf dalam mendefinisikan adil wkwk. jadi kalian definisikan sendiri.

kalau menurutku, yaa itu secara dhohir tidak adil, tapi yaa adil secara manusiawi, tapi yaa lebih adil lagi kalau kita jangan terpana drakor sampai mengeliminir drama hanya karna pemainnya cogan atau cecan, tapi lihatlah manfaat ceritanya buat kehidupanmu :*

karenaa... kita pula yang mengkonstruksi keadilan.. makanya mbah pram dawuh, kaum terpelajar harus adil sejak dalam pemikiran..

Jumat, 27 Oktober 2017

Kepadamu Yaa Rosuul

Yaa Rosuul
Seluruh kemuliaan akhlak padamu
Menangis mata yang pernah berjumpa denganmu
Atau mata yang merindukanmu
Menjadi indah seluruh hari bersamamu
Menjadi manis seluruh waktu denganmu
Menjadi wangi seluruh alam denganmu

Sinar wajahmu bagai bulan purnama
Lebih indah dan menerangi hati yang sedang bersedih
Selalu siap tanganmu pada sesiapa yang meminta atau tidak
Selalu ada senyummu pada sesiapa yang kau temui

Hari terindah adalah ketika engkau dilahirkan
sedangkan terburuknya adalah ketika engkau kembali ke sisi Robbul alamin

Sebaik masa adalah masa engkau di dunia

Seindah mata adalah yang pernah memandangmu
Sebahagia manusia ialah sahabatmu

Namun mengapa cinta ini naik turun
Merindu tapi meninggalkan kecintaanmu
Menangis tanpa bukti cinta

Engkaulah harapan hamba
Tanpamu, keringlah hati manusia

Wahai Nabi
Cintamu sepanjang masa
Cintamu hidupkan surga

Minggu, 22 Oktober 2017

Catatan 22 Oktober Tahun Ini : Mengharukan

Jika menulis adalah ekspresi terhadap fenomena internal atau pun eksternal, maka ijinkanlah saya kali ini nulis tentang cerita tadi malam. Bersyukur tadi malem bisa dipertemukan dengan salah satu santri Mbah Yai Hasyim Asy'ari yang masih sugeng meski umurnya sudah 115 tahun.

Lahir tahun 1902, Kyai Masyhudi nama beliau. Asli Tajinan, kabupaten Malang. Beliau merupakan salah satu saksi perjuangan santri sekaligus santri yang berjuang ketika sebelum hingga sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Biasanya kalau mendengar atau membaca cerita sejarah kita, terutama saya juga bosen. Hehehe. Terkadang rasanya seperti mendengar dongeng pengantar tidur. Sayangnya dan untungnya semalem rasanya nggak ngantuk sama sekali dengerin beliau cerita sekaligus ceramah.

Semalem beliau mengisi mauidhoh hasanah di acara Refleksi Hari Santri Nasional yang diadakan oleh MWCNU Blimbing di halaman ponpes I'anatuth Tholibin. Entah bagaimana persepsi rekan-rekanita seumuran saya tadi malem, tapi menurut saya beliau mengagumkan karena tidak hanya ber 'mauidhoh hasanah' tapi juga ber 'uswatun hasanah'.

Pada usia yang sungguh tak muda lagi, beliau selama sekitar 2 jam cerita plus ceramah tanpa duduk. Padahal sudah disediakan kursi tapi beliau memilih berdiri. Saya pun sebenarnya tidak tau alasannya, tapi kalau boleh berhusnudzon, bagi saya itu sebuah contoh melawan nafsu. Karena faktanya duduk jelas lebih enak, tapi beliau tidak mau memanjakan nafsunya, beliau memilih berdiri, melawan hawa nafsu.

Selanjutnya, beliau ini cara mengingatkan dari ceramah beliau sifatnya lemah lembut. Bukan lemah lembut dengan nada yang membuat kita ngantuk. hehe. Maksudnya, beliau ini yaa menjelaskan kita masa lalu, mengingatkan kita perjuangan ulama, lalu merefleksikan apa yang kita butuhkan supaya lebih baik. Pembawaan beliau juga tidak ngomel-ngomel kalau mengingatkan kesalahan kita.

Misalnya ketika mengingatkan bahwa amal kita selalu diawasi malaikat Rokib Atid, beliau sekaligus menyindir keadilan di masyarakat kita saat ini. "Kita ini selalu diawasi oleh intelejennya Gusti Alloh. Intelejennya gusti Alloh niku jujur, mboten kados intelejen manusia yang suka mencari kesalahan orang lain tapi salahnya sendiri tidak dikoreksi." ucap beliau disambut tawa dan tepuk tangan jamaah yang hadir. "Intelejene gusti Alloh niku nek salah nggeh ditulis salah, bener nggeh ditulis bener" lanjut beliau.

Tidak cukup disitu, banyak hikmah yang menurut kulo bisa dipetik dari ceramah beliau semalam. Tidak hanya yang terucap, tapi juga yang tak terucap.

Beliau juga mengingatkan "yang kita butuhkan adalah keluarga yang soleh, pemimpin yang soleh, mangkane kulo panjenengan sedoyo monggo njaluk dateng gusti Alloh mugi diparingi keluargaingkang soleh, pemimpin ingkang soleh. Nek pemimpin ora soleh, wis ojo suwe-suwe ndek kono.." ucap beliau.

Ada lagi, beliau juga mengingatkan bahwa dalam belajar atau mengajar agama, bukan cepatnya atau banyaknya yang penting, melainkan bagaimana kita bisa menghayati dan memasukkannya ke dalam hati. Beliau mengkritik pembacaan solawat Nariyah yang dibaca terlalu cepat menurut beliau. "Moco sholawat Nariyah kok diselak. Sholawat nariyah iku maksude opo? Menghayati bahwa sifat Rosululloh adalah 'tanhallu bihil 'uqod' , ngilangno sekabehane kesusahan," ucap beliau.

"Kito sedoyo pasti mboten lepas saking kesusahan. Lah wong susah niku mergo nopo? Mergo atine sumpek," tambah beliau. Kyai Masyhudi kemudian mengatakan bahwa kesusahan adalah sesuatu yang selalu pernah dialami manusia sejak dulu hingga sekarang. Oleh sebab itu, dulu ada syair tombo ati, untuk mengobati hati yang sumpek.

Yai Masyhudi pun memaklumi bahwa tombo ati nomer satu dan dua cukup sulit dan jarang dilakukan masyarakat zaman sekarang, sehingga beliau menekankan poin ketiga "wong kang soleh kumpulono".

"Tombo ati kaping tigo niku wong kang soleh kumpulono, guduk wong kang kucluk kumpulono," gurau yai Masyhudi. "Poro ulama niku sirojuddunnya wa siroojul akhiroh, cahaya dunia dan cahaya akhirat. Poro ulama niku nggeh warosatul anbiya," lanjut beliau. Bagi beliau, mendekat dengan para ulama, bisa menjadikan hati tentram, hidup kita berkah dan meningkatkan kesholehan.

Sholeh ada banyak macamnya. Sholeh terhadap tetangga, saudara, orang tua, guru, tidak hanya soleh yang diartikan dalam bentuk hubungan manusia Tuhan.

Momen hari santri, menurut beliau menjadi penting untuk mengingatkan pentingnya peran santri bagi negara. Santri lah yang turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan disaat negara dilanda banyak permaslahan baik pertahanan fisik maupun ideologis.

Peringatan hari santri pun tidak lepas dari peran santri-santri dan para ulama terdahulu. Sebagaimana seorang memiliki pangkat atau jabatan, tidak langsung berkat usahanya sendiri, melainkan berkat jasa orang tua yang menafkahi hidupnya dan pendidikannya. Oleh sebab itu, santri zaman sekarang juga wajib tasyakur kepada Alloh dan berterimakasih terhadap para ulama dahulu. Ibaratkan dalam Al-Quran surah Luqman yang menerangkan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, lalu Alloh perintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya serta kedua orang tuanya.

Kamis, 05 Oktober 2017

Alhamdu Lillah

Kenapa ya nulisnya harus dipisah gitu Alhamdu Lillah? Konon katanya penekanan penulis aja. hehe ibarat kalau nulis versi Jawa nya itu: Suwun Ya Alloh.
EYD nya? Jangan tanya aku wkwk. Bukan ahli bahasa, lagian masalah ejaan jangan dipikir berat-berat, ini nggak masuk ujian nasional Bahasa Indonesia.

Nikmat Alloh memang luar biasa besar. Ya ini edisi penulis lagi tobat hehehhee (Alhamdulillah bisa edisi tobat) wkwk (semoga istiqomah, pemirsa). 

Suwun Ya Robb. Wes pokok e suwun pol. Suwun. Suwun sak kathah - kathah e. Njenengan Terbuaik wes. Tapi nggeh kulo nyuwun ngapunten kathah dusone teng Njenengan.

Kalau kata ulama, tahadduts bin nikmah itu ada di surat Ad-Dhuha ayat terakhir, ya apa salahnya penulis ini matur sedikit-sedikit. Intinya Alloh buaik banget, sudah menempatkan kehidupan penulis di sebaik-baik tempat. Dan konon katanya , dawuhnya poro ulama, kalau kita ini terus berusaha takwa sebaik-baiknya sama Alloh, pasti Alloh kasih yang baik-baik dan lebih-lebih dari yang kita minta. Itu yang penulis alami. Meski penulis ini pas-pasan, tapi Alloh kasih penulis luebih-luebih wes. Nikmat yang Alhamdulillah.

'Kalau kamu bertakwa pada Alloh, pasti Alloh ajarkan apa yang tidak kamu ketahui'

Ngoten mengutip dari dawuh yai Suwandi ketika mengajar Nashoihul Ibad. Nikmat ilmu yang mendekatkan kita pada Alloh itu juga buesar sekali. Kita bisa tau dan merasakan nikmatnya Alloh itu selalu baik sama kita. Selalu wes. Selama kita ini berniat baik, Alloh bantu kita berbuat baik. Kalau kita berbuat baik, Alloh kasih kita bantuan berbuat baik lebih banyak lagi, Alloh kasih ketentraman hati, kasih sayang, buanyak wes. Pokok e Alloh buaik <3
 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design