Minggu, 22 Oktober 2017

Catatan 22 Oktober Tahun Ini : Mengharukan

Jika menulis adalah ekspresi terhadap fenomena internal atau pun eksternal, maka ijinkanlah saya kali ini nulis tentang cerita tadi malam. Bersyukur tadi malem bisa dipertemukan dengan salah satu santri Mbah Yai Hasyim Asy'ari yang masih sugeng meski umurnya sudah 115 tahun.

Lahir tahun 1902, Kyai Masyhudi nama beliau. Asli Tajinan, kabupaten Malang. Beliau merupakan salah satu saksi perjuangan santri sekaligus santri yang berjuang ketika sebelum hingga sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Biasanya kalau mendengar atau membaca cerita sejarah kita, terutama saya juga bosen. Hehehe. Terkadang rasanya seperti mendengar dongeng pengantar tidur. Sayangnya dan untungnya semalem rasanya nggak ngantuk sama sekali dengerin beliau cerita sekaligus ceramah.

Semalem beliau mengisi mauidhoh hasanah di acara Refleksi Hari Santri Nasional yang diadakan oleh MWCNU Blimbing di halaman ponpes I'anatuth Tholibin. Entah bagaimana persepsi rekan-rekanita seumuran saya tadi malem, tapi menurut saya beliau mengagumkan karena tidak hanya ber 'mauidhoh hasanah' tapi juga ber 'uswatun hasanah'.

Pada usia yang sungguh tak muda lagi, beliau selama sekitar 2 jam cerita plus ceramah tanpa duduk. Padahal sudah disediakan kursi tapi beliau memilih berdiri. Saya pun sebenarnya tidak tau alasannya, tapi kalau boleh berhusnudzon, bagi saya itu sebuah contoh melawan nafsu. Karena faktanya duduk jelas lebih enak, tapi beliau tidak mau memanjakan nafsunya, beliau memilih berdiri, melawan hawa nafsu.

Selanjutnya, beliau ini cara mengingatkan dari ceramah beliau sifatnya lemah lembut. Bukan lemah lembut dengan nada yang membuat kita ngantuk. hehe. Maksudnya, beliau ini yaa menjelaskan kita masa lalu, mengingatkan kita perjuangan ulama, lalu merefleksikan apa yang kita butuhkan supaya lebih baik. Pembawaan beliau juga tidak ngomel-ngomel kalau mengingatkan kesalahan kita.

Misalnya ketika mengingatkan bahwa amal kita selalu diawasi malaikat Rokib Atid, beliau sekaligus menyindir keadilan di masyarakat kita saat ini. "Kita ini selalu diawasi oleh intelejennya Gusti Alloh. Intelejennya gusti Alloh niku jujur, mboten kados intelejen manusia yang suka mencari kesalahan orang lain tapi salahnya sendiri tidak dikoreksi." ucap beliau disambut tawa dan tepuk tangan jamaah yang hadir. "Intelejene gusti Alloh niku nek salah nggeh ditulis salah, bener nggeh ditulis bener" lanjut beliau.

Tidak cukup disitu, banyak hikmah yang menurut kulo bisa dipetik dari ceramah beliau semalam. Tidak hanya yang terucap, tapi juga yang tak terucap.

Beliau juga mengingatkan "yang kita butuhkan adalah keluarga yang soleh, pemimpin yang soleh, mangkane kulo panjenengan sedoyo monggo njaluk dateng gusti Alloh mugi diparingi keluargaingkang soleh, pemimpin ingkang soleh. Nek pemimpin ora soleh, wis ojo suwe-suwe ndek kono.." ucap beliau.

Ada lagi, beliau juga mengingatkan bahwa dalam belajar atau mengajar agama, bukan cepatnya atau banyaknya yang penting, melainkan bagaimana kita bisa menghayati dan memasukkannya ke dalam hati. Beliau mengkritik pembacaan solawat Nariyah yang dibaca terlalu cepat menurut beliau. "Moco sholawat Nariyah kok diselak. Sholawat nariyah iku maksude opo? Menghayati bahwa sifat Rosululloh adalah 'tanhallu bihil 'uqod' , ngilangno sekabehane kesusahan," ucap beliau.

"Kito sedoyo pasti mboten lepas saking kesusahan. Lah wong susah niku mergo nopo? Mergo atine sumpek," tambah beliau. Kyai Masyhudi kemudian mengatakan bahwa kesusahan adalah sesuatu yang selalu pernah dialami manusia sejak dulu hingga sekarang. Oleh sebab itu, dulu ada syair tombo ati, untuk mengobati hati yang sumpek.

Yai Masyhudi pun memaklumi bahwa tombo ati nomer satu dan dua cukup sulit dan jarang dilakukan masyarakat zaman sekarang, sehingga beliau menekankan poin ketiga "wong kang soleh kumpulono".

"Tombo ati kaping tigo niku wong kang soleh kumpulono, guduk wong kang kucluk kumpulono," gurau yai Masyhudi. "Poro ulama niku sirojuddunnya wa siroojul akhiroh, cahaya dunia dan cahaya akhirat. Poro ulama niku nggeh warosatul anbiya," lanjut beliau. Bagi beliau, mendekat dengan para ulama, bisa menjadikan hati tentram, hidup kita berkah dan meningkatkan kesholehan.

Sholeh ada banyak macamnya. Sholeh terhadap tetangga, saudara, orang tua, guru, tidak hanya soleh yang diartikan dalam bentuk hubungan manusia Tuhan.

Momen hari santri, menurut beliau menjadi penting untuk mengingatkan pentingnya peran santri bagi negara. Santri lah yang turut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan disaat negara dilanda banyak permaslahan baik pertahanan fisik maupun ideologis.

Peringatan hari santri pun tidak lepas dari peran santri-santri dan para ulama terdahulu. Sebagaimana seorang memiliki pangkat atau jabatan, tidak langsung berkat usahanya sendiri, melainkan berkat jasa orang tua yang menafkahi hidupnya dan pendidikannya. Oleh sebab itu, santri zaman sekarang juga wajib tasyakur kepada Alloh dan berterimakasih terhadap para ulama dahulu. Ibaratkan dalam Al-Quran surah Luqman yang menerangkan perjuangan seorang ibu dalam mengandung, lalu Alloh perintahkan kita untuk bersyukur kepada-Nya serta kedua orang tuanya.

Kamis, 05 Oktober 2017

Alhamdu Lillah

Kenapa ya nulisnya harus dipisah gitu Alhamdu Lillah? Konon katanya penekanan penulis aja. hehe ibarat kalau nulis versi Jawa nya itu: Suwun Ya Alloh.
EYD nya? Jangan tanya aku wkwk. Bukan ahli bahasa, lagian masalah ejaan jangan dipikir berat-berat, ini nggak masuk ujian nasional Bahasa Indonesia.

Nikmat Alloh memang luar biasa besar. Ya ini edisi penulis lagi tobat hehehhee (Alhamdulillah bisa edisi tobat) wkwk (semoga istiqomah, pemirsa). 

Suwun Ya Robb. Wes pokok e suwun pol. Suwun. Suwun sak kathah - kathah e. Njenengan Terbuaik wes. Tapi nggeh kulo nyuwun ngapunten kathah dusone teng Njenengan.

Kalau kata ulama, tahadduts bin nikmah itu ada di surat Ad-Dhuha ayat terakhir, ya apa salahnya penulis ini matur sedikit-sedikit. Intinya Alloh buaik banget, sudah menempatkan kehidupan penulis di sebaik-baik tempat. Dan konon katanya , dawuhnya poro ulama, kalau kita ini terus berusaha takwa sebaik-baiknya sama Alloh, pasti Alloh kasih yang baik-baik dan lebih-lebih dari yang kita minta. Itu yang penulis alami. Meski penulis ini pas-pasan, tapi Alloh kasih penulis luebih-luebih wes. Nikmat yang Alhamdulillah.

'Kalau kamu bertakwa pada Alloh, pasti Alloh ajarkan apa yang tidak kamu ketahui'

Ngoten mengutip dari dawuh yai Suwandi ketika mengajar Nashoihul Ibad. Nikmat ilmu yang mendekatkan kita pada Alloh itu juga buesar sekali. Kita bisa tau dan merasakan nikmatnya Alloh itu selalu baik sama kita. Selalu wes. Selama kita ini berniat baik, Alloh bantu kita berbuat baik. Kalau kita berbuat baik, Alloh kasih kita bantuan berbuat baik lebih banyak lagi, Alloh kasih ketentraman hati, kasih sayang, buanyak wes. Pokok e Alloh buaik <3

Rabu, 04 Oktober 2017

Hanya dibaca

Selamat malam :) Salam. Semoga semuanya baik-baik saja. Apa aku keliru? Hanya tak ingin ada banyak pertemuan yang tak semestinya sebelum kita lebih jauh lagi. :)

Minggu, 01 Oktober 2017

Sepancar Doa atau Cerita ._.

Entah kemana aku berjalan
Banyak yang aku abaikan, terlalu fokus pada beberapa orang saja. Dalam hidupku hingga saat ini. Maaf bila aku tak sempat menengok atau bertanya kabar. Betapa aku menyibukkan diriku untuk organisasi-organisasi ini. Bukan berarti aku melupakan yang lain, mungkin aku menomerduakannya. Tidak tanpa alasan. Idealisme ini berakar mengharap aku membantu para ulama sebaik mungkin yang aku bisa. Akar ini entah hanya idealisme muda-mudi ataukah memang cinta dan rindu pada sinar Ilahi yang memancar pada para Nabi dan pewarisnya. Hingga satu ketika aku juga bertanya apakah tidak aku punya waktu bermain-main dengan kalian? Entahlah, mengapa aku ini cenderung pada mereka mereka saja. Satu ketika kisah Nabi menyentuh hati, selalu ramah dan berteman dengan siapa saja. Menjaga silaturahim dengan bertegursapa, bercerita dan ceria. Seolah dirangkum oleh Imam Ghozali "Jika tak mampu menjadi manusia yang bermanfaat dan berbuat baik maka setidaknya jangan menjadi orang yang merusak dan menyakiti orang lain". Hingga menetes ilmu itu pada kitab akhlak lil banin, akhlak lil banat, betapa aku masih perlu memperbaiki semua hubungan ini. Karna rasa sayang dan rindu ini hanya ku arahkan selama Engkau memintanya. Di situ lah aku berada dan mencoba untuk belajar. Hingga aku harap selalu bimbingan-Mu karena setiap langkahku menjadi harapku untuk bersama-Mu.
.

Sabtu, 09 September 2017

Bahagia lah

Ketika kita ingin menuliskan, tapi keraguan itu datang. Teman, aku minta maaf jika satu ketika kalian harus bertemu dengan seorang Kurnia yang masih dalam proses pencarian jati diri dan belum menemukan pencerahan.
Aku hanya bisa memandangmu, menyampaikan maaf dari hatiku, lalu terkadang tersenyum padamu. Aku tak tau apakah itu adalah senyuman yang kau abaikan seperti dulu yang ku lakukan atau bagaimana. Tapi saat ini semoga hatiku menetapi satu hal, aku bahagia melihatmu bahagia. :)
.



Senin, 04 September 2017

Bayang, Cahaya, Renungan

Di sebuah sudut ruang, ia menatap sedikit cahaya. Ingin ditulisnya sebuah bait, lalu diurungkannya. Katanya, puisi adalah makhluk yang terlahir dari cipratan perasaan yang meloncat dari wadah bernama hati. Tak ada jendela berair di hadapannya, seperti waktu itu. Hanya ada angan dan sisa-sisa perenungannya yang sempat mendorong sarafnya memproduksi air mata.

Ia kemudian teringat pada masa kecilnya, di tengah bermain-main, ia melihat ibunya menatap langit-langit cukup lama lalu meneteskan air mata. Pilihannya. Ketika mundur tak bisa, seperti sejarah yang tak mungkin diralat kecuali dengan melakukan tindakan saat ini yang akan menjadi bagian sejarah itu sendiri. Satu dua detik, menit, jam, hari, tahun, windu, dasa hingga mendekati abad atau melebihinya. Akan ditentukan separuhnya dari pilihannya kini.


Halo

Rebah, pohon, dan rerumputan
Kicau, air, dan angin angin
Izinkan aku rebah dalam
Permainanmu

Senin

Api bulat
Mengisi jantung, mata,
dan jemari

Sepi

Manusia rona menyeru
dari balik tirai
"Turun.. Naik.. Turun..!"

Ah. Le lah

Saudara
di pojok sana
Menggumam
Menyulut simbol terdiam

Air, tak mampu membuat mereka seri
Binar
Seperti gemerlap cahaya

Merasa Sedikit

Sendiri itu tidak menyenangkan
Seringkali
Meski kita butuh waktu sendiri
Nyatanya
Terkadang pikiran kita pun tak menyendiri
Selalu mencari teman
Umumnya

Jumat, 01 September 2017

Takbiran Keliling

Maciaat buk :)
 Coba tebak itu gambar apa? Mobil wkwk ya iyes lah ya.. wkwk.. Gambar-gambar ini nyeritain serunya takbiran keliling di kelurahan Dinoyo tempat desa ayas. Nah ini pertama kalinya lo aku liat takbiran keliling wkwk biasanya aku insider dalem rumah aja.. Sebenernya pas mau ikut itu aku uda siap, tapi aku ketiduran abis solat magrib jadi para rombongan rt uda pada berangkat wkwk. 
Bisa dilihat macem-macem mobil karnaval, pemirsa. Ada yang pake lampion bentuk bintang, pake dekorasi bali, trus bikin replika onta! lucu banget wkwk

Trus trus... Gimana nih maen musik sambil takbiran kok kayaknya gak islami banget?
Maaf neng, abang. Inti dari islam adalah menyampaikan kebaikan untuk menyeru kebaikan membuat kita lebih baik dan orang lain lebih baik. Dan apa musik itu nggak islami? Kenapa kok pakek takbiran keliling segala?

Inilah cara islam menyebar dengan cara yang damai dan menghargai budaya lokal. Budaya atau kebiasaan masyarakat asli itu adalah identitas seseorang, selama tidak merusak batin kita dan kesucian hati kita ya tidak masalah. Musik yang justru intinya bisa mengajak kita taat itu baik. Seperti kata Mbah Yai pengasuh pondok Tegalrejo "Maksiat yang mengantarkan taat lebih baik daripada taat yang menghasilkan riya"

dan ada juga kalam ulama "Ambillah yang baik dari nilai yang baru, dan pertahankan nilai baik yang ada sebelumnya". 

Dengan cara ini Islam itu bisa tertanam di hati kita, menjadi manusia yang menyayangi dengan menghargai kesukaan orang lain. Coba bayangkan, kalau kita kafirkan musik, hidup jadi serius terus, tanpa seni, hidup terasa kaku. Kita jadi benci orang yang muter musik, meskipun misalkan dia baik, suka menolong, tidak sombong, rajin menabung. Eh. wkwk

Jadinya kalau kita benci dia, dia benci kita, mana islamnya? Apa islam mengajarkan kita menebar kebencian? Padahal justru islam mengajarkan kita jangan merasa lebih baik dari orang lain. Buktinya Alloh bilang "Siapa yang rendah diri, Aku angkat derajatnya. Siapa yang somboh, Aku rendahkan derajatnya." :) Jadi aku pun mulai baru ikut acara beginian wkwk ^^

lampionnya macem2, kayak kincir angin yang belakang itu

Part of My Study





Alhamdulillah di sebagian perjalanan kuliahku, 21 Agustus senin beberapa minggu lalu uda terlewati ujian seminar proposal dengan pak Riza dan pak Arda. Hehe. Sebenarnya pak Riza humoris banget orangnya cuman pas akunya emang serius yah.. Jadi gitu deh. Alhamdulillah ga banyak kesulitan. Dan hal yang bikin bersyukur lagi kehadiran temen-temen di sempro, ada temen-temen ipnu ippnu ub dan temen angkatan. :) It's happy to see ya again. Makasi juga buat semua yang dikasih, ucapan, jajan, dan coklat, dan apa pun itu. Makasih banyak semoga bisa segera nyusul ya yang belum sempro dan dipermudah semua urusannya buat yang uda wisuda, mbak Wiwit :)

Rekan Rekanita IPNU IPPNU. Photo by masnya
Jajan :D wkwk akhirnya dimaem bareng <3

Sabtu, 19 Agustus 2017

Bulan dan Matahari

Jika bumi mengitari matahari untuk siang dan malam
Maka haruskah aku mengitari usia untuk hidup dan mati
Jika rotasi berbalik jarum jam
Maka kebalikannya membuat semua tak semestinya

Maka ke manakah rotasiku selanjutnya?
Ketika cahaya matahari dan bulan sedang terangnya
Ketika dua arah menarik sama kuatnya

Barangkali arah ini terbalik
Tetapi mengapa membaliknya membuat awan hujan
Mendung dan gerimis pelan pelan
Tak takutkah awan itu
Pada fatwa hening
Cahaya matahari dan silaunya
Membakar pelan-pelan

Sesekali bulan itu mendamaikan
Tapi fatwa tak mengizinkan
Bumi yang runtuh mengitari bulan

Terkadang puitis itu menjijikkan
Terkadang puitis itu menyenangkan
Terkadang puitis itu menyedihkan
Ah semua hanya terkadang
Yang tercipta dari radang
Rasa yang tak ingin diemban

Malang, 19 Agustus 2017

Rabu, 16 Agustus 2017

Selamat Hari Pramuka

#EdisiLatepost
Uda dua hari yang lalu sih. Tapi gapapa kan ya.. Selamat ulang tahun Pramuka :)

Sabtu, 05 Agustus 2017

Berskripsi

Kalau be-kerja mengandung arti melakukan, maka demikian juga untuk berskripsi, melakukan skripsi. Alhamdulillah setelah berkali-kali ganti judul dan pada akhirnya menggunakan judul ini, cukup banyak hal yang aku pelajari. Pertama, konsep soft power yang banyak diperdebatkan oleh peneliti hubungan internasional, membuatku semakin banyak membaca kenapa aku harus kembali yakin dengan konsep ini. Tak cukup disitu, dengan merefleksi pada fenomena yang ada, membuatku berpikir dan tidak gampang mengiyakan beberapa teori tentang soft power. Ketika soft power sebagai resource, konversi, dan outcome seringkali menggunakan istilah yang sama, ayas jadi belajar dan berpikir apakah benar proses nya demikian dan apa yang harus diperbaiki dalam menggunakan istilah ini. Kehati-hatian dalam menggunakan istilah akan mempermudah orang agar dapat memahami bacaan dan pemikiran kita.

Kedua, lebih jauh lagi, tanpa disangka ketika memilih kata Pengaruh, pendekatan soft power yang aku gunakan adalah tingkatan lanjutan dari teori soft power yang dikembangkan Joseph Nye. Meskipun pada akhirnya harus membuang kritik terhadap teori tersebut, Alhamdulillah karna sebelumnya menggunakan kritik, dosen ayas menyarankan dua pilihan, membaca semua kritik yang ada, memasukkannya atau membuangnya sama sekali. Saat menjalankan pilihan pertama. Alhamdulillah pengetahuan ayas jadi bertambah. Betapa metode tentang konsep yang diperdebatkan ini lebih banyak mengandung perdebatan lagi dan lagi. Sehingga pada akhirnya ayas membuang semua kritik dan Alhamdulillah menemukan pemikiran Nye sendiri tentang pengukuran pengaruh itu.
Entah bagaimana kelanjutannya nanti. Sembari mengerjakan ini itu, semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi ayas, dan semua pembacanya.

Keliru Nyari Toko

Alhamdulillah :)


Setelah sekitar satu jam muter-muter di sekitar alun-alun kota Malang buat cari makan dan alat tulis, akhirnya aku balik ke kampus dengan tangan kosong.wkwkwk. Nggak lucu sih.. Tapi aku jadi merasa sadar akan sesuatu. Ternyata di tempat yang punya pasar besar, gajahmada, matahari, ramayana dan alun-alun itu nggak ada tempat yang recommended buat beli alat tulis yang murah dan menyenangkan. Padahal aku cuma nyari kertas kado. wkwk. Tapi bahkan di salah satu toko alat tulis di sana malah nggak ada. Hihi. Jadi teringat satu momen pas di sekitar sana nyari yang namanya rental ngeprint. Di sekitar mergan dan sukun dan klojen pucuk. Masyaa Alloh ga ada wkwk. Ada pun nemu satu tempat ngeprint harganya 1500 per lembar meskipun cuma atasnya aja yang berwarna. Alhasil Rp 60.000 melayang wkwk dan dompet langsung kosong. Parah banget. Sejak saat itu juga ngerasa banget lebih mending di daerah sekitar kampus kayak UM, UB, UIN banyak banget rental printer murah cuma 200 rupiah kalau warna. Dan yauda deh, lain kali nggak cari rental print ke sana. 
Entah kenapa di tempat yang banyak toko-toko menumpuk di sana, yang bisa ditemukan hanya sepatu dan baju dan plastik dan sesuatu yang grosir dan toko parfum atau toko arab. Mungkin di sisi lain kota Malang secara nggak disadari memiliki pemetaan barang-barang yang dijual di beberapa daerah tertentu. Semisalkan alat tulis tadi. Jangan sampai cari di sekitar pasar besar jelas susah banget ketemunya. Dan jangan cari gilingan kopi di daerah kampus. Jadi kesimpulannya sekiranya aku keliru banget tadi jalan-jalannya hehehe.Say hello to panda aja wes lah :)

Selasa, 18 Juli 2017

Tertunduk

Tundukmu, senyum ringkasmu
Terangkum dalam sila dudukmu

Abu-abu mengitarmu
di situ ada aku
Terdiam
Melihatmu beku
Aku bukan oven
yang bisa menghangatkanmu
bukan permen
yang menghibur pahitmu

Aku hanya manusia
yang jadi benda
di antara udara
lalu menatap sila dudukmu
tertunduk

Tidak ada yang lebih indah

Tidak ada yang lebih indah
dari kata-kata yang dirajut dengan ketulusan hati, ilmu, dan kasih sayang
Tapi lebih tidak ada yang lebih indah lagi
dari cahaya yang merajut ketulusan, cinta, dan ilmu sekaligus

Cahaya itu buram dari netra kita
Debu jalanan telah membutakan kita sedikit demi sedikit
Ah obat mana yang bisa menolong
Mata buta yang  tidak awas pada tikungan
Membahayakan diri dari segala sisi

Nirna semoga tidak sirna
Dari hati kita
Tempat semua bermuara
Dari hati kita
Tempat semua bermula


Entahlah

Terkadang, diamnya seseorang ketika bersamamu, bukan berarti ia tidak menyayangimu, hanya saja caranya menyayangimu berbeda dari biasanya. Mungkin, ia masih membutuhkan waktu untuk memastikan gelombangmu, untuk menyamakan frekuensi dengan mu nantinya.
Tidak hanya itu, ia juga butuh mempersiapkan dirinya untuk menikmati kebersamaan di frekuensi itu.
Tidak ada yang salah padamu. Barangkali ini juga bukan salahnya. Tidak ada yang salah.
Ia hanya sedang belajar berteman denganmu dan kamu hanya sedang salah paham dengannya. :)

Konco

Teman adalah salah satu anugrah yang indah di dunia ini. Teman bisa membuatmu tersenyum dari dalam hati sehingga membuat harimu begitu indah dan berwarna. Jika ia membuatmu sedih, kesal, semoga itu bukan warna yang dominan, meskipun terkadang sedikit mengangenkan alias bikin kangen. Meskipun kita bisa berteman dengan angin malam, gemericik sungai, kucing, atau pun lainnya, 'berteman' dengan sesama manusia menciptakan sebuah perasaan tersendiri.
Kita jadi lebih banyak belajar apa itu memahami, menghargai dan sebagainya. Karna teman selalu berusaha memberikan yang terbaik dan selalu ada disaat kita sendiri dan jatuh. Dan oleh karnanya, berteman dengan manusia, menjadi sesuatu yang lebih menantang. Ketika kita hanya berteman dengan gadget, laptop, mereka tidak akan meraung ketika kita membantingnya. Tetapi berbeda ketika kita berteman dengan manusia, jangan kan kita banting, kita cubit sedikit dia ngomel-ngomel. Dia mengajarkan kita untuk menghargai dan mengerti perasaannya. Indah bukan? :)

Selasa, 27 Juni 2017

Selamat Lebaran :)

Assalamualaikum :)
Perkenankan kali ini aku memulai tulisan dengan sedikit salam. Semoga salam ini bisa menjadi sapaan hangat yang mencerahkan setiap pembaca tulisan ini. Tanpa mengurangi rasa takdzim terhadap guru-guruku, izinkan aku pula untuk mengawali pembahasan tipis ini dengan berterimakasih pada Mbah Nun (Emha Ainun Najib), yang dengan karya-karya beliau berhasil menumbuhkan kembali kesadaran berpikir untuk memikirkan lebih dalam lagi setiap fenomena di sekeliling kita. Yang barangkali sebelumnya sempat sedikit terabaikan dari pertanyaan "mengapa demikian" atau bahkan terabaikan sama sekali dari pertanyaan itu. Mbah Nun dengan pemikirannya dan penjabaran proses pemikiran itu memancing setiap pemikiran untuk ikut berpikir dan melihat bersama. Sehingga tak terasa, saat ini pun aku dan bahkan jutaan jamaah Maiyah lainnya menjadi insan yang mulai berpikir menjadi Abdulloh. Sebuah proses yang entah cepat atau lambat tapi pasti harus naik tingkat lagi supaya manusia ini benar menjadi "kholifatulloh" di atas bumi dan bukannya menumpahkan darah.
Sebenarnya menulis di saat siang lebaran begini sedikit membuatku gelisah. Khawatir ada tamu yang datang sementara aku tidak bisa mempersilahkan dengan baik karna harus berhadapan dengan layar laptop sementara sakin asiknya ingin menulis.
Membaca karya Mbah Nun yang tetap relevan di baca tanpa mengenal tahun, membuatku menemukan jawaban pelan-pelan (proses mencari jawaban mungkin lebih tepatnya) akan pertanyaan yang selama ini Alloh turunkan melalui perenungan. Perenungan yang terkadang seringkali melintas tapi lalu terlupakan karena kesibukan atau lainnya. Perenungan tentang menjadi muslim, hamba Alloh yang mengaku pasrah kepada-Nya apalagi ingin mencintai-Nya. Di tengah dinamika modernisasi pengetahuan yang bersifat analitis, dipadukan dengan warna-warni perebutan penerapan agama yang normatif. Di tambah dengan budaya yang terkadang di iming-imingi oleh bungkus kata 'modern' 'kekinian' dan 'Barat' yang belum tentu benar-benar berharga atau membawa kebaikan untuk kedekatan kita kepada sesama, untuk semakin menyayangi manusia, dan semakin merasakan getaran Ilahi melalui isyarat-isyarat-Nya.

Mbah Nun beberapa hari lalu menulis Idul Fitri Wisanggeni di situs caknun.com. Sebuah tulisan yang kira-kira sedikit banyak memiliki hubungan dengan medan yang aku pelajari di jurusan hubungan internasional. Meskipun awalnya aku tidak bermaksud untuk kuliah, namun ketika terlanjur, semoga aku bisa bersungguh belajar karna siapa tahu ilmu ini bermanfaat bagi diri maupun orang banyak meskipun HI tentu bukanlah satu-satunya ilmu yang bersifat serbaguna. Ia tentu harus dilengkapi dengan alat lain yakni ilmu agama yang menjadi dasar, agar akhlak ketika berpadu dengan ilmu menjadi satu kemuliaan. Tanpa akhlak mulia, ilmu tidak menjadi rohmah namun bisa menjadi penghancur.
Ketika terjadi fenomena perang dunia, yang bisa diamati ternyata bukan hanya dhohir orang-orang yang mengalahkan satu sama lain. Lebih dari itu, perang dunia, lebih mengenaskan dilihat dari akibatnya. Hanya karna perebutan kekuasaan (yang tidak akan di bawa mati), rasa tidak suka pada orang lain, lantas mengajak dan mengorbankan jutaan orang bahkan lintas negara untuk bunuh-membunuh, perilaku yang tidak mulia tentunya. Setelah perang dunia pertama dan kedua bersifat materialistis, perang dunia ketiga bersifat pemikiran. Sekelompok orang ingin 'menguasai dunia'. Padahal jelas mereka hanya manusia, dan apalah gunanya manusia mengakumulasi 'kekuasaan' jika pada akhirnya setelah mati ia tahu bahwa yang berkuasa hanya lah Alloh semata? Harta, alat perang, laba perdagangan, pemikiran orang lain tidak akan berguna jika hanya diniatkan untuk kekuasaan. Jika kekuasaan didefinisikan sebagai tangga yang akan menjadikan seseorang menjadi raja, maka sia-sia perbuatannya karna sejatinya Raja itu adalah Tuhan yang me'raja'i bumi, manusia, jin, dan semuanya.
Akan tetapi, jika kekuasaan diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengubah tindakannya, maka hendaknya kekuasaan itu diarahkan untuk kebaikan. Mengapa demikian?  Seseorang bisa saja mengumpulkan harta sebanyak mungkin, membeli baju beratus lemari, dan bermegah-megahan. Sayangnya, jika itu di dunia yang di atas bumi ini, maka itu semua tidak akan dimiliki selamanya. Setelah meninggal dan seiring berjalannya waktu, harta itu akan dimakan rayap, berganti tangan, dan seseorang itu tak mungkin bisa menyentuhnya. Itulah sunnatulloh. Ketetapan Alloh bahwa dunia yang bumi ini ditinggali manusia, adalah sesuatu yang merupakan tahap awal menuju kehidupan sesungguhnya, kehidupan abadi yang sering disebut akhirat. Kehidupan abadi itu akan kita tempuh setelah kita 'dilahirkan' atau dibangkitkan kembali dari mayat di dalam kubur, menjadi manusia lagi di alam lain.
Seperti ketika kita simulasi sebelum mendaki gunung. Alloh menyediakan lahan di gunung dan menaruh kita di lereng beberapa waktu untuk mengambil bekal dan berlatih. Kemudian, setelah beberapa waktu, Alloh memutuskan untuk membanjiri dan menghilangkan lereng itu. Sehingga semua manusia mau tidak mau harus membawa bekal yang berhasil ia kumpulkan dan berlomba menuju puncak dan sesuai ilmu simulasi itu lah mereka akan bertahan dan betah di puncak bahkan sejahtera. Akan tetapi jika bekal yang dibawa tidak cukup, tidak sampai puncak mereka terengah-engah dan berhenti. Ada pun yang tidak mau meninggalkan lereng, maka ia akan dimakan banjir dan tenggelam kemudian masuk angin terus menerus.
Seperti itulah. Dan saat ini, tampaknya beberapa kelompok berusaha mendapatkan 'kekuasaan' untuk mempengaruhi orang lain. Untungnya bukan untuk bunuh-membunuh lagi, melainkan untuk membangun 'perumahan'. Menanamkan bahwa rumah joglo itu sudah tidak tren dan saatnya membangun perumahan dan apartemen. Padahal itu hanya rumah. Rumah, sepanjang yang tinggal didalamnya aman, tidak kehujanan, bisa tidur lelap, tidak digigit nyamuk, pagi bangun bisa sarapan, dan makan tidak sampai lapar, sebenarnya sudah Alhamdulillah nikmat. Hmm.. Meskipun demikian, entahlah.. barangkali ini yang disebut Mbah Nun sebagai proses Hari Keempat, Kelima dan Keenam. Suatu saat manusia akan sadar, bahwa pembangunan sebenarnya adalah membangun jiwa manusia menjadi rukun, memperbaiki diri, dan baik bagi orang lain. Selanjutnya, manusia akan berusaha mencari Tuhan-Nya, mengabdi dengan berbuat baik kepada siapapun dan apapun. Hingga semuanya menjadi baik dan barangkali itu lah menuju akhir episode dramatis bumi ini, yang diungkapkan oleh Mbah Ronggowarsito sebagai Kolo Suroso.

Kamis, 22 Juni 2017

Lupa belum dikasih judul

Sepertinya blogging di sini cuma jadi kegiatan sebulan atau bahkan setahun sekali. Baru sadar ketika liat postingan terakhir Mei bulan kemaren ini. Nggak terasa sebentar lagi lebaran dan kayaknya udah cepet aja ketika aktif tiap hari. Apalagi taun ini kampus liburnya H-3 bro sis sedulur. Maigat wkwk.
Untungnya aku udah nggak banyak UAS lagi. Emang udah semester tua sih ^^" Momen yang cukup menegangkan karna orangtua dan keluarga bahkan tetangga menanyakan kelulusanmu. Kapan? Setelah itu dikejar pertanyaan kapan dan kapan barangkali. Barulah mungkin ketika kamu uda nikah, kerja, tenang hidup loe. wkwk. Eh, ditanya juga, kapan punya anak? Loh kan.
Mau nggak mau hidup emang berjalan terus. Itulah takdir Ilahi, Pencipta kita semua. Entah kenapa yang namanya sudah terlanjur lahir di dunia ini harus siap untuk menghadapi segala resiko dan masalah. Setiap hari. Bukan berarti resiko dan masalah itu menunggu hal besar untuk terjadi pada kita, Lur. Resiko untuk introspeksi diri dan Masalah untuk berakhlak mulia dengan Tuhan dan sesama makhluk-Nya setiap hari. Sebuah proses aksi-refleksi pribadi yang tidak berhenti semestinya, sebab waktu berjalan terus. Berarti usia kita menua setiap hari. Dan dalam jangka waktu itu, setiap hari pula kita dipaksa untuk terus menjadi lebih baik. Kalau tidak merasa, berarti bisa jadi hidup kita datar saja, tidak ada kemajuan, padahal orang-orang di sekitar kita semakin memperbanyak kebaikan, pahala, skill, kecerdasan, dan sebagainya.
Yah malah nyasar dan ngelantur bahas ke mana-mana. Nah ini berkaitan sama kembalinya aku ke blogger. Wehehehe semacam RETURN :D Nggak penting amat diposting sebenernya, tapi bagiku inilah latian menulisku dan ajang untuk menghiasi blog kecil pribadiku yang menurutku sudah seperti kamar digitalku sendiri. :)
Kurnia sama Shofiyatul Amrih dan Anisa. Kangen sebenernya sama sofi. Entah dia agak susah dihubungi sekarang :(

Sabtu, 06 Mei 2017

See ya again :)

Hey my lovely blog. Long time not writing here. I hope that I have an enough weekend. Hehe it seems that this blog only work at my weekend.
.
Writing in my personal blog has a different sensations. I love seeing something cute sometimes, although i also love seeing something dark such as night with stars. I love seeing something that beautiful in my sight, has an aesthetic side. Ok, that's not important to tell to you.
.
Have a nice weekend all. I prefer to spend my time reading book and listening to the music. I miss praying, long time I have spent my time with rarely praying. But when I'm praying sometimes I soon get bored. wkwk that's rather weird. Reading a yellow holy book also interesting. :) It can calm your heart, especially tasawuf book. but we have to learn fiqh too. :) And of course I still have many fault in my akhlaq that need to be repaired ^^"
.
Don't be surprised. I'm not that kind girl.
 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design