Sabtu, 19 Agustus 2017

Bulan dan Matahari

Jika bumi mengitari matahari untuk siang dan malam
Maka haruskah aku mengitari usia untuk hidup dan mati
Jika rotasi berbalik jarum jam
Maka kebalikannya membuat semua tak semestinya

Maka ke manakah rotasiku selanjutnya?
Ketika cahaya matahari dan bulan sedang terangnya
Ketika dua arah menarik sama kuatnya

Barangkali arah ini terbalik
Tetapi mengapa membaliknya membuat awan hujan
Mendung dan gerimis pelan pelan
Tak takutkah awan itu
Pada fatwa hening
Cahaya matahari dan silaunya
Membakar pelan-pelan

Sesekali bulan itu mendamaikan
Tapi fatwa tak mengizinkan
Bumi yang runtuh mengitari bulan

Terkadang puitis itu menjijikkan
Terkadang puitis itu menyenangkan
Terkadang puitis itu menyedihkan
Ah semua hanya terkadang
Yang tercipta dari radang
Rasa yang tak ingin diemban

Malang, 19 Agustus 2017

Rabu, 16 Agustus 2017

Selamat Hari Pramuka

#EdisiLatepost
Uda dua hari yang lalu sih. Tapi gapapa kan ya.. Selamat ulang tahun Pramuka :)

Sabtu, 05 Agustus 2017

Berskripsi

Kalau be-kerja mengandung arti melakukan, maka demikian juga untuk berskripsi, melakukan skripsi. Alhamdulillah setelah berkali-kali ganti judul dan pada akhirnya menggunakan judul ini, cukup banyak hal yang aku pelajari. Pertama, konsep soft power yang banyak diperdebatkan oleh peneliti hubungan internasional, membuatku semakin banyak membaca kenapa aku harus kembali yakin dengan konsep ini. Tak cukup disitu, dengan merefleksi pada fenomena yang ada, membuatku berpikir dan tidak gampang mengiyakan beberapa teori tentang soft power. Ketika soft power sebagai resource, konversi, dan outcome seringkali menggunakan istilah yang sama, ayas jadi belajar dan berpikir apakah benar proses nya demikian dan apa yang harus diperbaiki dalam menggunakan istilah ini. Kehati-hatian dalam menggunakan istilah akan mempermudah orang agar dapat memahami bacaan dan pemikiran kita.

Kedua, lebih jauh lagi, tanpa disangka ketika memilih kata Pengaruh, pendekatan soft power yang aku gunakan adalah tingkatan lanjutan dari teori soft power yang dikembangkan Joseph Nye. Meskipun pada akhirnya harus membuang kritik terhadap teori tersebut, Alhamdulillah karna sebelumnya menggunakan kritik, dosen ayas menyarankan dua pilihan, membaca semua kritik yang ada, memasukkannya atau membuangnya sama sekali. Saat menjalankan pilihan pertama. Alhamdulillah pengetahuan ayas jadi bertambah. Betapa metode tentang konsep yang diperdebatkan ini lebih banyak mengandung perdebatan lagi dan lagi. Sehingga pada akhirnya ayas membuang semua kritik dan Alhamdulillah menemukan pemikiran Nye sendiri tentang pengukuran pengaruh itu.
Entah bagaimana kelanjutannya nanti. Sembari mengerjakan ini itu, semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi ayas, dan semua pembacanya.

Keliru Nyari Toko

Alhamdulillah :)


Setelah sekitar satu jam muter-muter di sekitar alun-alun kota Malang buat cari makan dan alat tulis, akhirnya aku balik ke kampus dengan tangan kosong.wkwkwk. Nggak lucu sih.. Tapi aku jadi merasa sadar akan sesuatu. Ternyata di tempat yang punya pasar besar, gajahmada, matahari, ramayana dan alun-alun itu nggak ada tempat yang recommended buat beli alat tulis yang murah dan menyenangkan. Padahal aku cuma nyari kertas kado. wkwk. Tapi bahkan di salah satu toko alat tulis di sana malah nggak ada. Hihi. Jadi teringat satu momen pas di sekitar sana nyari yang namanya rental ngeprint. Di sekitar mergan dan sukun dan klojen pucuk. Masyaa Alloh ga ada wkwk. Ada pun nemu satu tempat ngeprint harganya 1500 per lembar meskipun cuma atasnya aja yang berwarna. Alhasil Rp 60.000 melayang wkwk dan dompet langsung kosong. Parah banget. Sejak saat itu juga ngerasa banget lebih mending di daerah sekitar kampus kayak UM, UB, UIN banyak banget rental printer murah cuma 200 rupiah kalau warna. Dan yauda deh, lain kali nggak cari rental print ke sana. 
Entah kenapa di tempat yang banyak toko-toko menumpuk di sana, yang bisa ditemukan hanya sepatu dan baju dan plastik dan sesuatu yang grosir dan toko parfum atau toko arab. Mungkin di sisi lain kota Malang secara nggak disadari memiliki pemetaan barang-barang yang dijual di beberapa daerah tertentu. Semisalkan alat tulis tadi. Jangan sampai cari di sekitar pasar besar jelas susah banget ketemunya. Dan jangan cari gilingan kopi di daerah kampus. Jadi kesimpulannya sekiranya aku keliru banget tadi jalan-jalannya hehehe.Say hello to panda aja wes lah :)

Selasa, 18 Juli 2017

Tertunduk

Tundukmu, senyum ringkasmu
Terangkum dalam sila dudukmu

Abu-abu mengitarmu
di situ ada aku
Terdiam
Melihatmu beku
Aku bukan oven
yang bisa menghangatkanmu
bukan permen
yang menghibur pahitmu

Aku hanya manusia
yang jadi benda
di antara udara
lalu menatap sila dudukmu
tertunduk

Tidak ada yang lebih indah

Tidak ada yang lebih indah
dari kata-kata yang dirajut dengan ketulusan hati, ilmu, dan kasih sayang
Tapi lebih tidak ada yang lebih indah lagi
dari cahaya yang merajut ketulusan, cinta, dan ilmu sekaligus

Cahaya itu buram dari netra kita
Debu jalanan telah membutakan kita sedikit demi sedikit
Ah obat mana yang bisa menolong
Mata buta yang  tidak awas pada tikungan
Membahayakan diri dari segala sisi

Nirna semoga tidak sirna
Dari hati kita
Tempat semua bermuara
Dari hati kita
Tempat semua bermula


Entahlah

Terkadang, diamnya seseorang ketika bersamamu, bukan berarti ia tidak menyayangimu, hanya saja caranya menyayangimu berbeda dari biasanya. Mungkin, ia masih membutuhkan waktu untuk memastikan gelombangmu, untuk menyamakan frekuensi dengan mu nantinya.
Tidak hanya itu, ia juga butuh mempersiapkan dirinya untuk menikmati kebersamaan di frekuensi itu.
Tidak ada yang salah padamu. Barangkali ini juga bukan salahnya. Tidak ada yang salah.
Ia hanya sedang belajar berteman denganmu dan kamu hanya sedang salah paham dengannya. :)

Konco

Teman adalah salah satu anugrah yang indah di dunia ini. Teman bisa membuatmu tersenyum dari dalam hati sehingga membuat harimu begitu indah dan berwarna. Jika ia membuatmu sedih, kesal, semoga itu bukan warna yang dominan, meskipun terkadang sedikit mengangenkan alias bikin kangen. Meskipun kita bisa berteman dengan angin malam, gemericik sungai, kucing, atau pun lainnya, 'berteman' dengan sesama manusia menciptakan sebuah perasaan tersendiri.
Kita jadi lebih banyak belajar apa itu memahami, menghargai dan sebagainya. Karna teman selalu berusaha memberikan yang terbaik dan selalu ada disaat kita sendiri dan jatuh. Dan oleh karnanya, berteman dengan manusia, menjadi sesuatu yang lebih menantang. Ketika kita hanya berteman dengan gadget, laptop, mereka tidak akan meraung ketika kita membantingnya. Tetapi berbeda ketika kita berteman dengan manusia, jangan kan kita banting, kita cubit sedikit dia ngomel-ngomel. Dia mengajarkan kita untuk menghargai dan mengerti perasaannya. Indah bukan? :)

Selasa, 27 Juni 2017

Selamat Lebaran :)

Assalamualaikum :)
Perkenankan kali ini aku memulai tulisan dengan sedikit salam. Semoga salam ini bisa menjadi sapaan hangat yang mencerahkan setiap pembaca tulisan ini. Tanpa mengurangi rasa takdzim terhadap guru-guruku, izinkan aku pula untuk mengawali pembahasan tipis ini dengan berterimakasih pada Mbah Nun (Emha Ainun Najib), yang dengan karya-karya beliau berhasil menumbuhkan kembali kesadaran berpikir untuk memikirkan lebih dalam lagi setiap fenomena di sekeliling kita. Yang barangkali sebelumnya sempat sedikit terabaikan dari pertanyaan "mengapa demikian" atau bahkan terabaikan sama sekali dari pertanyaan itu. Mbah Nun dengan pemikirannya dan penjabaran proses pemikiran itu memancing setiap pemikiran untuk ikut berpikir dan melihat bersama. Sehingga tak terasa, saat ini pun aku dan bahkan jutaan jamaah Maiyah lainnya menjadi insan yang mulai berpikir menjadi Abdulloh. Sebuah proses yang entah cepat atau lambat tapi pasti harus naik tingkat lagi supaya manusia ini benar menjadi "kholifatulloh" di atas bumi dan bukannya menumpahkan darah.
Sebenarnya menulis di saat siang lebaran begini sedikit membuatku gelisah. Khawatir ada tamu yang datang sementara aku tidak bisa mempersilahkan dengan baik karna harus berhadapan dengan layar laptop sementara sakin asiknya ingin menulis.
Membaca karya Mbah Nun yang tetap relevan di baca tanpa mengenal tahun, membuatku menemukan jawaban pelan-pelan (proses mencari jawaban mungkin lebih tepatnya) akan pertanyaan yang selama ini Alloh turunkan melalui perenungan. Perenungan yang terkadang seringkali melintas tapi lalu terlupakan karena kesibukan atau lainnya. Perenungan tentang menjadi muslim, hamba Alloh yang mengaku pasrah kepada-Nya apalagi ingin mencintai-Nya. Di tengah dinamika modernisasi pengetahuan yang bersifat analitis, dipadukan dengan warna-warni perebutan penerapan agama yang normatif. Di tambah dengan budaya yang terkadang di iming-imingi oleh bungkus kata 'modern' 'kekinian' dan 'Barat' yang belum tentu benar-benar berharga atau membawa kebaikan untuk kedekatan kita kepada sesama, untuk semakin menyayangi manusia, dan semakin merasakan getaran Ilahi melalui isyarat-isyarat-Nya.

Mbah Nun beberapa hari lalu menulis Idul Fitri Wisanggeni di situs caknun.com. Sebuah tulisan yang kira-kira sedikit banyak memiliki hubungan dengan medan yang aku pelajari di jurusan hubungan internasional. Meskipun awalnya aku tidak bermaksud untuk kuliah, namun ketika terlanjur, semoga aku bisa bersungguh belajar karna siapa tahu ilmu ini bermanfaat bagi diri maupun orang banyak meskipun HI tentu bukanlah satu-satunya ilmu yang bersifat serbaguna. Ia tentu harus dilengkapi dengan alat lain yakni ilmu agama yang menjadi dasar, agar akhlak ketika berpadu dengan ilmu menjadi satu kemuliaan. Tanpa akhlak mulia, ilmu tidak menjadi rohmah namun bisa menjadi penghancur.
Ketika terjadi fenomena perang dunia, yang bisa diamati ternyata bukan hanya dhohir orang-orang yang mengalahkan satu sama lain. Lebih dari itu, perang dunia, lebih mengenaskan dilihat dari akibatnya. Hanya karna perebutan kekuasaan (yang tidak akan di bawa mati), rasa tidak suka pada orang lain, lantas mengajak dan mengorbankan jutaan orang bahkan lintas negara untuk bunuh-membunuh, perilaku yang tidak mulia tentunya. Setelah perang dunia pertama dan kedua bersifat materialistis, perang dunia ketiga bersifat pemikiran. Sekelompok orang ingin 'menguasai dunia'. Padahal jelas mereka hanya manusia, dan apalah gunanya manusia mengakumulasi 'kekuasaan' jika pada akhirnya setelah mati ia tahu bahwa yang berkuasa hanya lah Alloh semata? Harta, alat perang, laba perdagangan, pemikiran orang lain tidak akan berguna jika hanya diniatkan untuk kekuasaan. Jika kekuasaan didefinisikan sebagai tangga yang akan menjadikan seseorang menjadi raja, maka sia-sia perbuatannya karna sejatinya Raja itu adalah Tuhan yang me'raja'i bumi, manusia, jin, dan semuanya.
Akan tetapi, jika kekuasaan diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mengubah tindakannya, maka hendaknya kekuasaan itu diarahkan untuk kebaikan. Mengapa demikian?  Seseorang bisa saja mengumpulkan harta sebanyak mungkin, membeli baju beratus lemari, dan bermegah-megahan. Sayangnya, jika itu di dunia yang di atas bumi ini, maka itu semua tidak akan dimiliki selamanya. Setelah meninggal dan seiring berjalannya waktu, harta itu akan dimakan rayap, berganti tangan, dan seseorang itu tak mungkin bisa menyentuhnya. Itulah sunnatulloh. Ketetapan Alloh bahwa dunia yang bumi ini ditinggali manusia, adalah sesuatu yang merupakan tahap awal menuju kehidupan sesungguhnya, kehidupan abadi yang sering disebut akhirat. Kehidupan abadi itu akan kita tempuh setelah kita 'dilahirkan' atau dibangkitkan kembali dari mayat di dalam kubur, menjadi manusia lagi di alam lain.
Seperti ketika kita simulasi sebelum mendaki gunung. Alloh menyediakan lahan di gunung dan menaruh kita di lereng beberapa waktu untuk mengambil bekal dan berlatih. Kemudian, setelah beberapa waktu, Alloh memutuskan untuk membanjiri dan menghilangkan lereng itu. Sehingga semua manusia mau tidak mau harus membawa bekal yang berhasil ia kumpulkan dan berlomba menuju puncak dan sesuai ilmu simulasi itu lah mereka akan bertahan dan betah di puncak bahkan sejahtera. Akan tetapi jika bekal yang dibawa tidak cukup, tidak sampai puncak mereka terengah-engah dan berhenti. Ada pun yang tidak mau meninggalkan lereng, maka ia akan dimakan banjir dan tenggelam kemudian masuk angin terus menerus.
Seperti itulah. Dan saat ini, tampaknya beberapa kelompok berusaha mendapatkan 'kekuasaan' untuk mempengaruhi orang lain. Untungnya bukan untuk bunuh-membunuh lagi, melainkan untuk membangun 'perumahan'. Menanamkan bahwa rumah joglo itu sudah tidak tren dan saatnya membangun perumahan dan apartemen. Padahal itu hanya rumah. Rumah, sepanjang yang tinggal didalamnya aman, tidak kehujanan, bisa tidur lelap, tidak digigit nyamuk, pagi bangun bisa sarapan, dan makan tidak sampai lapar, sebenarnya sudah Alhamdulillah nikmat. Hmm.. Meskipun demikian, entahlah.. barangkali ini yang disebut Mbah Nun sebagai proses Hari Keempat, Kelima dan Keenam. Suatu saat manusia akan sadar, bahwa pembangunan sebenarnya adalah membangun jiwa manusia menjadi rukun, memperbaiki diri, dan baik bagi orang lain. Selanjutnya, manusia akan berusaha mencari Tuhan-Nya, mengabdi dengan berbuat baik kepada siapapun dan apapun. Hingga semuanya menjadi baik dan barangkali itu lah menuju akhir episode dramatis bumi ini, yang diungkapkan oleh Mbah Ronggowarsito sebagai Kolo Suroso.

Kamis, 22 Juni 2017

Lupa belum dikasih judul

Sepertinya blogging di sini cuma jadi kegiatan sebulan atau bahkan setahun sekali. Baru sadar ketika liat postingan terakhir Mei bulan kemaren ini. Nggak terasa sebentar lagi lebaran dan kayaknya udah cepet aja ketika aktif tiap hari. Apalagi taun ini kampus liburnya H-3 bro sis sedulur. Maigat wkwk.
Untungnya aku udah nggak banyak UAS lagi. Emang udah semester tua sih ^^" Momen yang cukup menegangkan karna orangtua dan keluarga bahkan tetangga menanyakan kelulusanmu. Kapan? Setelah itu dikejar pertanyaan kapan dan kapan barangkali. Barulah mungkin ketika kamu uda nikah, kerja, tenang hidup loe. wkwk. Eh, ditanya juga, kapan punya anak? Loh kan.
Mau nggak mau hidup emang berjalan terus. Itulah takdir Ilahi, Pencipta kita semua. Entah kenapa yang namanya sudah terlanjur lahir di dunia ini harus siap untuk menghadapi segala resiko dan masalah. Setiap hari. Bukan berarti resiko dan masalah itu menunggu hal besar untuk terjadi pada kita, Lur. Resiko untuk introspeksi diri dan Masalah untuk berakhlak mulia dengan Tuhan dan sesama makhluk-Nya setiap hari. Sebuah proses aksi-refleksi pribadi yang tidak berhenti semestinya, sebab waktu berjalan terus. Berarti usia kita menua setiap hari. Dan dalam jangka waktu itu, setiap hari pula kita dipaksa untuk terus menjadi lebih baik. Kalau tidak merasa, berarti bisa jadi hidup kita datar saja, tidak ada kemajuan, padahal orang-orang di sekitar kita semakin memperbanyak kebaikan, pahala, skill, kecerdasan, dan sebagainya.
Yah malah nyasar dan ngelantur bahas ke mana-mana. Nah ini berkaitan sama kembalinya aku ke blogger. Wehehehe semacam RETURN :D Nggak penting amat diposting sebenernya, tapi bagiku inilah latian menulisku dan ajang untuk menghiasi blog kecil pribadiku yang menurutku sudah seperti kamar digitalku sendiri. :)
Kurnia sama Shofiyatul Amrih dan Anisa. Kangen sebenernya sama sofi. Entah dia agak susah dihubungi sekarang :(

Sabtu, 06 Mei 2017

See ya again :)

Hey my lovely blog. Long time not writing here. I hope that I have an enough weekend. Hehe it seems that this blog only work at my weekend.
.
Writing in my personal blog has a different sensations. I love seeing something cute sometimes, although i also love seeing something dark such as night with stars. I love seeing something that beautiful in my sight, has an aesthetic side. Ok, that's not important to tell to you.
.
Have a nice weekend all. I prefer to spend my time reading book and listening to the music. I miss praying, long time I have spent my time with rarely praying. But when I'm praying sometimes I soon get bored. wkwk that's rather weird. Reading a yellow holy book also interesting. :) It can calm your heart, especially tasawuf book. but we have to learn fiqh too. :) And of course I still have many fault in my akhlaq that need to be repaired ^^"
.
Don't be surprised. I'm not that kind girl.
 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design