Senin, 04 September 2017

Bayang, Cahaya, Renungan

Di sebuah sudut ruang, ia menatap sedikit cahaya. Ingin ditulisnya sebuah bait, lalu diurungkannya. Katanya, puisi adalah makhluk yang terlahir dari cipratan perasaan yang meloncat dari wadah bernama hati. Tak ada jendela berair di hadapannya, seperti waktu itu. Hanya ada angan dan sisa-sisa perenungannya yang sempat mendorong sarafnya memproduksi air mata.

Ia kemudian teringat pada masa kecilnya, di tengah bermain-main, ia melihat ibunya menatap langit-langit cukup lama lalu meneteskan air mata. Pilihannya. Ketika mundur tak bisa, seperti sejarah yang tak mungkin diralat kecuali dengan melakukan tindakan saat ini yang akan menjadi bagian sejarah itu sendiri. Satu dua detik, menit, jam, hari, tahun, windu, dasa hingga mendekati abad atau melebihinya. Akan ditentukan separuhnya dari pilihannya kini.


0 comments:

Posting Komentar

 

Reddish Pink Template by Ipietoon Cute Blog Design